Hari ini, untuk pertama kalinya lagi aku kembali menginjakkan kaki di kampusku. Predikat alumni memang sudah melekat dalam diriku dan itu membuatku tidak pernah kembali ke kampus yang menyimpan banyak cerita ini.
Rasa rindu muncul ketika aku sampai di gang, jalan menuju kampusku yang terletak di Dago Pojok ini. Kampus yang bangunannya tidak layak dibilang kampus karena tidak terdapat kantin, malah lebih sering disebut sebagai SD Impres oleh anak-anak.
Entah rasa rindu akan apa yang muncul saat itu. Apakah itu rasa rindu untuk belajar di kelas kembali. Di mana aku sama sekali tidak pernah memperhatikan apa yang dosen-dosen itu ucapkan. Di mana aku tidak malas sekali untuk membawa tas dan lebih senang menyimpan tasku di mobil Enur atau Teteh dan menitipkan pulpen dan terkadang map ku pada Enur, Mami atau Teteh. Dan jika malas sekali dan sering kali malas, aku tidak akan membawa apa-apa ke kelas. Hanya ponsel. Dan untuk alasan alat tulis, aku mengandalkan Enur, Aunty dan terkadang Ua Uun. Karena Teteh dan Mami sama-sama Cuma punya pulpen satu!!.
Rindu pada kuliah pak Sahala yang selalu membuat suasana tegang di kelas. Tegang karena anak-anak sebagian besar takut ditunjuk oleh Pak Sahala dan disuruh presentasi di depan. Nightmare banget kayaknya kalau disuruh mempresentasikan tugas di depan kelas. Jangan sampai salah kata. Tapi jangankan untuk presentasi tugas, rasa tegang dan takut juga selalu mendera anak-anak di kelas Jurnalistik yang hanya berisikan 30 orang ini, dan terkadang hanya 15 orang, ini juga terasa saat mengumpulkan tugas mingguan.
Salah tanda baca sedikit, salah judul apalagi kalau salah isi dari artikel yang ditulis. Matilah kita, dimaki-maki oleh Pak Sahala. Hahaha Lebay!!. Pak Sahala baik kok, beliau tidak pernah memarahi anak didiknya, tidak pernah memaki-maki anak didiknya. Beliau hanya tegas, dan berwibawa dan sindirannya yang “nyelekit” ke hati itulah yang membaut kami segan padanya. Tapi dai semua dosen yang pernah mengajar dan yang pernah aku temui, beliau adalah dosen terbaik. Pak Sahala paling the best deh. Nah kalau Pak Sahala baca tulisan ini sudah dimaki-maki juga aku.
“Jangan mencampur-adukkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris!. Jangan sok nginggris!!” kata-kata itu masih terngiang dalam benakku hehe.
Rindu juga sama Pak Darmawan. Dosen yang selalu membawa aura ngantuk di kelas saat kuliahnya. Punten Pak, tapi ini memang kenyataan. Bingung juga kenapa setiap kuliah Bapak ini, nilai anak-anak selalu tidak sesuai. Ada yang rajin kuliah, tapi dapet C, yang tidak pernah mengerjakan tugas malah dapet A. Dan aku termasuk salah satu korban yang dirugikan dalam nilai ini. Selalu dapat C dari semua kuliah Bapak ini. Nasib memang.
Setiba di parkiran kampus, jantungku semakin berdebar. Sekarang aku sadar, memang aku merindukan untuk berkuliah dan bergosip ria dengan anak-anak kelas. Namun ada yang lebih aku rindukan. Aku merindukan seorang pria berpostur tinggi dengan tubuhnya yang berisi lebih ke chubby, berambut gondrong (dulu), dan berkacamata itu. Dia yang selalu memakai sepatu converse hitam itu….
Cukup aneh memang bagaimana aku mulai menyimpan perasaan untuk lelaki itu. Berawal dari aunty yang bilang kalau dia mirip denganku. Awalnya aku tidak rela dikatakan mirip dengannya. Namun lama-kelamaan orang-orang setuju dengan perkataan Aunty, dan mulailah menyebar kabar kalau aku mempunyai kembaran seorang lelaki haha. Tapi setelah dilihat-lihat, kami memang agak mirip, mungkin efek rambut juga.
Dan karena perkataan aunty itu, membuat aku mau tidak mau memperhatikan keberadaan Dia. Yang lama kelamaan menumbuhkan rasa suka di hatiku. Dan tebak apa yang membuat aku menyukai Dia. Jari-jemari tangannya.
Waktu itu sedang dalam perkuliahan Pak Sahala, dan aku ikut menemani Enur, Mami dan Lingga yang mengulang dan ikut di kelas bawah. Aku duduk di barisan paling akhir bersama mereka bertiga. Terhalang satu deretan di depanku adalah Dia. Dan yang bisa kulihat dari tempatku duduk hanyalah punggung dan jari-jemari tangannya.
Jari-jemari tanngannya yang panjang itu sibuk memainkan pulpen yang sedang ia pegang. Sesekali jeri-jemari itu menyisir asal rambut sebahunya yang tentu saja tidak terurus layaknya rambut perempuan. Aku terus memperhatikan jari-jemari tangan itu. Getaran-getaran aneh terasa dalam hatiku. Seksi. Itu yang kulihat dari jari-jemarinya, dan aku tahu aku mulai menyimpan perasaan spesial untuk dia.
Hari-hari kuliahku semakin kujalani dengan penuh semangat. Karena aku tahu aku akan selalu bertemu dengan Dia. Jadwal kuliah yang membuat kami satu kelas pun selalu aku nanti kedatangannya. Aku berkata dalam hati, “Akhirnya aku bisa merasakan perasaan ini lagi. Perasaan yang dulu pernah hilang.”
Lagu Dewi Sandra “I Love U” pun menjadi soundtrackku saat itu. KU KIRA KU TAK AKAN PERNAH JATUH CINTA LAGI. TERNYATA KU SALAH SAAT BERTEMU DENGANMU. WAKTU KAU BICARA HATIKU PUN BICARA. MENGAPA KAU BUAT AKU JADI MATI GAYA. MENDEKAT SALAH MENJAUH SALAH. BICARA SALAH, MENGAPA SEMUA JADI SERBA SALAH. APAKAH KAU RASAKAN HAL YANG SAMA DENGANKU, TAK AKAN KUTOLAK BILA KAU INGIN DENGANKU. SUNGGUH MATI KUJADI JATUH CINTA PADAMU, SUNGGUH KU MENYUKAI YANG ADA DI DIRIMU.
Mati gaya. Yap dia memang benar-benar membuatku mati gaya saat berdekatan dengannya. Tidak berani bicara bahkan membalas tatapannya. Aneh juga mengapa dia bisa membuatku mati gaya seperti itu. Dan itu berlangsung selama dua tahun ini. Dan masih berlangsung sampai sekarang, entah sampai kapan.
Bukannya aku jutek dan sombong karena tidak mau menyapa atau tersenyum padanya, namun itu benar-benar karena dia telah membuat aku mati gaya. Dan aku ingin ia tahu itu. Aku ingin ia tahu kalau aku tidak bermaksud sombong padanya, aku ingin ia tahu aku begitu karena takut, malu saat berada di dekatnya.
Namun kini yang ada hanya penyesalan. Dan rasa sesal ini digambarkan dengan baik oleh Eros dalam lagunya “Yang Terlewatkan”. SESAL TAK ADA ARTI KARENA SEMUA TLAH TERJADI. KINI KAU TLAH MENJALANI SISA HIDUP DENGANNYA. MUNGKIN SALAHKU MELEWATKANMU, TAK MENCARIMU SEPENUH HATI. KESALAHANKU MELEWATKANMU HINGGA KAU KINI DENGAN YANG LAIN. JIKA BERULANG KEMBALI, KAU TAK AKAN TERLEWATI. WALAUPUN TERLAMBAT, KAU TETAP YANG TERHEBAT. MELIHATMU, MENDENGARMU, KAULAH YANG TERHEBAT.
Memang, dari gaya berpakaiannya, gaya bicaranya, dialah yang paling aku rasa cocok jika aku berada bersamanya hehehe. Gayanya yang cuek, hanya kaos, jeans dan converse-nya. Entah mengapa aku sangat menyukai lelaki yang menggunakan sepatu kanvas (converse). Sepertinya aku bisa menjadi diriku sendiri saat bersamanya, tidak terlalu memikirkan apa yang kupakai, bagaimana penampilanku, dan bagaimana berantakannya rambutku.
Tapi memang ini kesalahanku melewatkanmu, tidak berusaha sepenuh hati untuk mendapatkanmu. Dan akhirnya kau kini menghabiskan sisa hidup dengannya. Nyesel memang datang belakangan.
Melihat dia dengan pacarnya sekarang cukup menyesakkan dada ini. Seharusnya aku yang berada dalam posisi perempuan itu. Harusnya aku yang bersanding dengan Dia. Merangkul bahunya, menggenggam tangannya, menemani ke mana pun Dia pergi. Harusnya aku bisa berada dalam posisi itu sekarang.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika aku benar-benar bersamanya sekarang. Mungkin aku tidak akan berhubungan dengan “seseorang” itu atau mencari “seseorang-seseorang” lagi. Karena aku akan terus bertahan, menemani, berada di samping Dia. Maafkan aku melewatkanmu…
Penasaran sekali saat mengetahui dia telah mempunyai pasangan hidupnya. Siapa perempuan beruntung yang telah mendapatkan hatinya. Sampai suatu hari aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu secara up close and personal dengan “perempuan beruntung” itu.
“Apaaaa???” itulah kesan pertama yang kudapat saat melihat sosok “perempuan beruntung” itu.
Saat itu aku sedang bersama Teteh. Dan detik itu juga aku memberitahu Teteh siapa perempuan yang sedang duduk tepat di sebelahku itu. Dengan wajah lurus dan tatapan mata tajam, Teteh menatap perempuan itu. Dari atas sampai bawah. Seakan tidak percaya apa yang ia lihat. Takut juga kalau-kalau Teteh menyerang perempuan itu detik itu juga setelah tahu perempuan itu yang kini mendampingi lelaki yang disukai adiknya ini.
“Udah Teh jangan diliatin gitu!!” ucapku sedikit panik karena tahu bagaimana sifat Teteh yang berani untuk menyerang orang yang tidak ia sukai.
“Buta dia Cil !! masa dia lebih milih nih cewek daripada kamu!!” itulah kata-kata pertama yang diucapkan Teteh setelah melihat pujaan hati lelaki yang kupuja.
Sedikit terhibur. Dan tidak bisa kupingkiri sisi setanku muncul. Dalam hati memang aku memaki dia karena lebih memilih perempuan ini daripada aku. Postur perempuan itu kecil, kurus, rambutnya panjang dan bermodel layer, dan kulitnya putih pucat. Tidak ada sama sekali yang bisa dibanggakan dari perempuan itu. Hahaha itulah sisi setanku.
Namun beberapa menit kemudian, sisi malaikatku kembali mendominasi. Memang bodynya dan bodyku bak body Crhistina Aguilera dan Beyonce. Dan aku yang menjadi Beyonce nya. Namun aku pikir, mungkin ada yang lebih dari perempuan ini yang membuatnya jatuh hati pada “Crihstina Aguilera” itu.
Mungkin karena dia lebih kurus dan kecil dariku, mungkin karena dia lebih pintar dariku. Entah juga yang pasti aku kecewa pada pilihan dia. Mengapa tidak memilih perempuan yang “lebih” dari perempuan itu. Setidaknya perempuan yang dapat membuatku “jatuh” karena dia lebih cantik, dan serba lebih dariku. Hahaha sisi setannya muncul lagi deh. Yah intinya aku kecewa pada pilihan dia.
Dan bukan hanya aku yang kecewa, teman-temanku yang sudah melihat langsung perempuan pilihan Dia pun merasa kecewa. Mereka terus berkata “Mendingan kamu Cil !!” dan aku hanya terus bisa berkata “Mau dibilang mendingan aku daripada dia, cantikan aku daripada dia, tapi yang pasti perempuan itu yang menjadi pemenangnya, karena berhasil mendapatkan Dia !!” huhu..
Dan situsi ini cocok sekali jika diberi soundtrack lagu Neng Avril Lavigne- “Girlfriend”. HEY HEY U U, I DON’T LIKE UR GIRLFRIEND. NO WAY NO WAY I THINK U NEED A NEW ONE. I COULD BE UR GIRLFRIEND. SHE’S LIKE SO WHATEVER, U CAN DO SO MUCH BETTER. I THINK WE SHOULD GET TOGHETER NOW.
Namanya juga curhatan hati. Kalau ada yang ngebaca ini dan merasa tersinggung ya maaf-maaf saja. Tapi kayaknya orang yang dimaksud juga engga mungkin baca tulisan ini. Hahaha.. and now I can laugh out loud.