Miguel de Cervantes, seorang petualang buku yang saya “temui” di tulisan M.Sadli dalam Bukuku Kakiku. Cervantes, salah satu orang berhasil membukakan pikiran saya tentang pentingnya membaca, dan apa yang bisa dilakukan dengan membaca buku. Adalah Don Quixote de la Mancha, seorang tokoh yang Cervantes kisahkan. Don Quixote sang “pahlawan yang percaya” yang akhirnya menjadi inspirasi bagi banyak pemikir dan pengarang besar Eropa dalam mengembangkan pemikiran dan karyanya. Don Quixote de la Mancha, seorang yang berani mengalahkan keterbatasan diri karena ia membaca.
Dikisahkan oleh Cervantes, Don Quixote membaca tanpa henti, siang dan malam, sampai-sampai apa yang dibacanya menjadi kenyataan dalam dirinya sendiri. Karena buku, ia menghendaki fantasinya menjadi kenyataan.
“Bukan realitas yang memaksanya bertindak, tapi suatu perasaan dan imajinasi magis yang ia peroleh dari bacaan. Ini kelihatannya seperti anggapan dan angan-angan idiot. Mungkin, tetapi keidiotan angan-angan dan anggapan itu sesungguhnya adalah karikatur positif tentang suatu kegilan membaca.”
Realitas seharusnya yang bisa melawan pikiran, tetapi pada Don Quixote, yang terjadi justru kebaikan di mana reailtas harus tunduk pada bacaan. Tiap kali Don Quixote menemui kegagalan, bukulah tempat ia berlari untuk mencari penyelesaian. Tiap kali ia menghadapi tantangan, bukanlah realitas, tetapi di bukulah ia mencari rumus untuk mengalahkannya.
Dikisahkan juga, Don Quixote jatuh hati pada perempuan yang belum pernah ia temui, Dulciana. Namun dalam angan-anganya,Don Quixote membayangkan Dulciana itu seorang perempuan yang lemah gemulai. Kenyataannya Dulciana semua kebalikan dari angan-angan “cantik” Don Quixote. Perawakannya tidaklah anggun, wajahnya tidak rupawan dan tidak tampak kemewahan sama sekali dalam diri Dulciana.
Namun apa pun halnya di mata Don Quixote, Dulciana itu kekasih yang patut disayangi dan dicintai, dan ia terus menerus menuliskan surat cinta untuk kekasihnya itu. Dari kisah cinta Don Quixote ini tampak bahwa Quixote ingin mengubah kenyataan dengan imajinasinya. Dan justru dalam imajinasi itu terletak arti dan hakikat cinta, di mana cinta itu mengubah orang yang dicintai menjadi pribadi yang ada di atas segalanya. Cinta tidak lagi memperhatikan status dan keadaan.
Sadli mengomentari perbuatan Don Quixote itu konyol, bagaimana dengan membaca kita bisa mengatasi segalanya, dan saya setuju. Tapi jika dipikirkan lagi, kita bisa mengubah dunia dengan mengubah pikiran kita sendiri. Lalu bagaimana kita bisa mengubah pikiran kita jika kita tidak membaca.
Membaca bukan sekedar “memasukkan” teks ke dalam dirinya. Membaca itu pergulatan yang berat, seperti yang diungkapkan oleh Sadli. Sebelum membaca, pembaca sudah membawa bekal dalam dirinya, entah pengalamannya, sejarahnya, perasaannya, keputusasaan atau harapannya, kegagalan atau kesuksesannya. Bekal itu bisa menjadi pendukung yang mengiyakan apa yang dibaca, tapi juga bisa menolak apa yang dibaca dan juga membuat lebih kritis dan tajam dalam menghadapi bacaan baru. Entah dengan mengiyakan dan menolak, membaca itu harus jalan terus.
Pengarang besar, Marcus Proust dalam artikelnya Sur La Lecture (On Reading), mengatakan membaca bukan hanya suatu proses pergulatan kreatif yang berat, melainkan juga proses yang indah dan romantis.
“Membaca adalah kenikmatan yang menggairahkan dan sekaligus menggelisahkan karena terangsang, beribu sensasi puitik dan beribu sensasi akan kehidupan yang utuh namun belum berbentuk, yang mengalir keluar dari kedalaman diri sejati, mengalir masuk ke dalam angan-angan pembaca dengan rasa nikmat yang manis dan indah seperti madu,” ungkap Marcus.
Membaca memang kegiatan yang menyenangkan bagi sebagian orang. Namun pengaruh ekonomi dalam kehidupan seseorang membuat seseorang yang mencintai kegiatan membaca terpaksa “berpaling”, tidak mencintai kegiatan membaca ini lagi. Harga-harga kebutuhan primer masyarakat menuntut pecinta buku untuk lebih “memperhatikan” kebutuhan primer hidupnya, bukan kebutuhan akan membaca.
Dilema antara membeli buku seharga Rp. 30ribu atau membeli makanan atau pakaian?. Belum lagi harga buku yang ikut dinaikan oleh penjualnya. Bagaimana Negara ini bisa maju jika pemerintahnya tidak menaruh perhatian dalam hal penjualan buku-buku, yang dalam banyak kisah telah ditunjukkan memang penting untuk menuju suatu perubahan. Perubahan yang lebih baik tentunya. Buku yang dapat mengubah seseorang menjadi Don Quixote de la Mancha selanjutnya.
cieee sok sok gini nulisnya,,
hahaha